[Latest News][7]

#RumBerdikari
2011
2012
2013
agama
agus sampurno
akronim
alkitab
ananta
ananta bangun
anantabangun.net
antar golong
anti streisand
AT-TIK
bahagia
bahasa indonesia
bangun
barbra streisand
becak
behasa inggris
belajar
Bertom Turnip
berton turnip
blindekuh
blog
blogger sumut
bramma sapta aji
budaya
buku
ceritera
chatting
columbus
dale carnegie
darmadi darmawangsa
diskominfo
djalaluddin pane foundation
download
DPF
e-mail
Einstein
enchanment
endorfin
etika
facebook
farid hardja
fastron blogging challenge
geman
gereja
gerhana bulan
google
googlism
guru
guy kawasaki
haisen
hari ibu
harry van yogya
helda
hikari
ibu
ice break.
ice breaking
ilmu
inspirasi
internet
ira lathief
jenuh
jepang
john holt
kaizen
keepvid
kiat menulis
komitmen
konsentrasi
koran
kristen
labuhanbatu
labusel
langkah
langkah-langkah
m nuh
m-plik
marketing
medan
media
membaca
menteri pendidikan
menulis
meutya hafid
motivasi
mplik
napaktilas
narkoba
ndikkar
ndorokakung
ngoge
normal is boring
opini
orde baru
orde lama
otak
panduan
paroki santa maria
pelatihan
pelatihan TIK
pemasaran
pemekaran
pendidikan
pengetahuan
peramban
pisa
pmi
pmr
politik
powerpoint
presentasi
prokrestus
qaris tajudin
radio
rantauprapat
ras
reformasi
relawan AT-TIK
religi
resensi
resolusi
restoran
sara
schooling
sederhana
sejarah
sekolah
selamat hari guyu
seminar
sharing
sheque
silat
sinar timur
SMK Kesehatan Wirahusada Medan
social media
starnews fm
strategi olah kelompok belajar
streisand
stroke
suku
sumatera utara
sumut
swiss
tcdp
teknologi
tema
the marketeers
thomas friedman
tiang bendera
TIK
tips
ToT
Tuhan
ujian nasional
UN
unduh
unschooling
usia
velangkani
veronica colondam
video
vinsensius
waktu
wanita
wikipedia
wirahusada
youtube
zurich

Ad Section

Apakah ada yang lebih inspiratif?

Nama beliau Siti Hasnah. Berusia sekira 50 tahun. Dalam Pelatihan TIK ke-X (Program Teachers Competency Development Program), beliau mengakui baru menggunakan komputer tatkala turut dalam pelatihan yang digagas dan didanai Djalaluddin Pane Foundation (DPF).

Dalam 2 hari, ia membangun keyakinan diri dan mengulang-ulang cara membuat materi presentasi ajar dengan MS Powerpoint. Sebuah inspirasi yang sulit ditemui kini.

Adakah yang lebih inspiratif dari ini? Adakah motivasi insan lain mampu membakar semangat kita? Sila kirim kirim ke surel saya: anantabangun@gmail.com

Semoga anda turut terinspirasi.

Apakah ada yang lebih inspiratif?

Fasilitator Bijak Selalu Manfaatkan 'Morfin'

Tingkat kebugaran dan konsentrasi manusia menyusut seiring perputaran waktu, sedari pagi hari hingga petang. Hal ini merupakan proses yang alamiah. Namun, dalam satu pelatihan atau pengajaran yang menuntut partisipasi aktif pembelajar, kondisi tersebut menjadi aral penghalang. Sebabnya materi pelatihan yang padat dapat berlangsung selama 7 jam. Pelatihan bakal sia-sia jika pembelajar tidak memahami setiap materi sebagai kesatuan yang utuh. Nah, di sini lah seorang Fasilitator yang bijak memanfaatkan morfin.

Tak perlu kuatir anda diringkus Kepolisian karena memanfaatkan morfin guna menyemangati pembelajar dalam pelatihan. Morfin yang kita berdayakan berasal dari tubuh kita sendiri. Jenis morfin ini populer disebut sebagai Endorfin. Secara kimia endorfin bermakna ‘endogenous-morphin’ yang berarti morfin yang dihasilkan oleh tubuh sendiri.

Endorfin diproduksi oleh kelenjar pituitary yang terletak di bagian bawah otak. Endorfin ini bahkan dikatakan 200 kali lebih besar dari morfin kimia. Hormon ini mampu menimbulkan perasaan senang dan nyaman hingga membuat seseorang berenergi. Selama ini endorfin sudah dikenal sebagai zat yang banyak manfaatnya. Beberapa diantaranya adalah, mengatur produksi hormon pertumbuhan dan seks, mengendalikan rasa nyeri serta sakit yang  menetap, mengendalikan perasaan stres, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana menghasilkan Endorfin?

Endorfin dalam tubuh bisa dipicu munculnya melalui berbagai kegiatan, seperti pernapasan yang dalam, urelaksasi, serta meditasi. Dalam sesi pelatihan, coffee break menjadi opsi tambahan sebelum memanfaatkan endorfin. Pemanfaatan endorfin umumnya dilakukan menjelang makan siang dan sesudahnya. Jenuh dan kantuk pembelajar diselingi dengan permainan unik dan lucu yang menghasilkan Endorfin.

Bila kegiatan di luar ruangan menjadi mustahil (misalnya) karena hujan, Fasilitator dapat menerapkan kegiatan dalam ruang, seperti: permainan cermin (akan dipaparkan dalam artikel berikutnya), menggambar wajah teman sesama pembelajar, atau kegiatan yang bersifat nyanyian dan joget. Nyanyian tersebut menjadi ampuh jika sengaja ditata sesuai tema pelatihan.

Memutar video humor juga dapat memicu hormon para pembelajar. Hanya saja, perhatikan durasi waktunya agar tak berubah menjadi acara Nonton Bareng.

Seling kegiatan pemicu Endorfin dapat mendorong pembelajar betah dan mampu menyerap materi pelatihan. Meskipun daya Endorfin menyusut seiring menuju jam petang/ malam. Namun, hormon ini baik diberdayakan selama pelatihan. Guna menghasilkan pelatihan yang berhasil dan pembelajar yang senang. Ini bisa tercapai bila Fasilitator bijak memanfaatkan morfin yang tepat: Endorfin.

Fasilitator Bijak Selalu Manfaatkan 'Morfin'

Jangan mengajar di ranjang Prokrustes

Alkisah pada suatu masa di negeri Yunani, nama 'Prokrustes' menimbulkan kegegeran. Siapa Prokrustes? Memiliki nama asli Damastes, ia dijuluki Prokrustes yang berarti "meregangkan", Ia terkenal karena muslihatnya mengundang para musafir yang bertualang ke daerah Attica.

Usai menjamu dengan suguhan nikmat. Ia mengajak tamunya untuk tidur di ranjang besi miliknya. Bila ukuran ranjang terlalu panjang, maka Prokrustes akan meregangkan tangan dan kaki tamunya hingga benar-benar pas. Acapkali hingga anggota tubuh tersebut lepas. Bila kaki tamunya terlalu panjang dari ukuran ranjang, ia akan memotongnya sesuai panjang ranjang tersebut.

Fanatisme Prokrustes untuk mendapatkan segala sesuatu ideal menurut egonya menjadi inspirasi Nassim Nicholas Taleb. Ia mencibir ego serupa yang mewabah pada masyarakat kita kini. Dalam aforisme di bukunya "Ranjang Prokrustes" Taleb mendapati banyak manusia yang sejatinya hendak mewujudkan sesuatu yang ideal terjebak dalam fanatisme Prokrustes.

Saya tergelitik mengaitkannya pada sosok pengajar di bulan yang masih beraroma Hari Pendidikan Nasional. Bukankah para pengajar memiliki peran berbagi pengetahuan? Tentu ada semangat menentukan capaian ideal bagi para pembelajar. Sayangnya, kerap muncul rasa frustasi jika pembelajar tidak merasa bertanggung jawab mencapai target ideal tersebut. Pada akhirnya muncul godaan untuk menghakimi mereka "tidak mau belajar" atau "tak berhasrat menambah pengetahuan". Satu tindak yang mirip Prokrustes.

Khusus untuk kasus Pembelajaran bagi Orang Dewasa ada satu kiat. Dalam pelatihan "Fasilitasi dan Komunikasi" oleh mbak Handa (Dazya Ina Mandiri) terdapat satu sesi yang disebut Menuliskan Lembar Komitmen.

Sebelum menuliskan lembar komitmen tersebut, libatkan peserta tentang "Apa yang Mereka Harapkan dari Pelatihan" ini. Peserta lalu diarahkan menuliskannya pada beberapa lembar kertas Metaplan. Agar mudah dicerna, umumnya hanya ditulis gagasan utama saja. Semisal: Mahir membuat slide presentasi berisi gambar/ video. Satu peserta boleh mencantum lebih dari satu harapan. Dimana, satu harapan tersebut ditulis dalam satu kertas metaplan.

Saatnya memasuki sesi Lembar Komitmen. Para peserta dilibatkan kembali bagaimana komitmen mereka untuk mewujudkan pengharapan yang telah dicantum sebelumnya.

Bila kemudian terjadi pengabaian, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab moral si pembelajar. Pengajar dalam Pelatihan tersebut bertanggungjawab agar materi yang diberikan mudah dicerna oleh si pembelajar. Komitmen menjadi rambu para pembelajar untuk menyadari pentingnya materi pelatihan yang tengah diikutinya.

Dan sang pengajar pun dapat menghindari fanatisme Prokrustes. Memaksakan capaian ideal yang mematikan motivasi belajar. Mengajar hendaknya memiliki pilar tangguh dari kesungguhan kedua pihak: pengajar dan pembelajar. Karenanya, jangan mengajar di ranjang Prokrustes.

Jangan mengajar di ranjang Prokrustes

Lebih sulit mana: Belajar Berjalan atau Statistika?


Jenius Fisika, Albert Einstein menuturkan kiatnya dalam mengajar: "Saya tidak pernah mengajar. Saya hanya menciptakan kondisi bagi mereka (mahasiswa) untuk belajar."

Belajar jadi beban bila konsep pemikiran masih berkutat pada guru, buku, ruang kelas, papan tulis, dan pernik-pernik belajar a la sekolahan.

Konsep belajar memberi batasan. Di luar ruang kelas, tindak belajar pun menguap. Berganti dengan cengkerama, bermain, atau seling kegiatan yang menyenangkan. Beberapa insan beranggapan telah selesai belajara setelah menggondol gelar kesarjanaan. Dengan demikian belajar pun bersifat kronologis. Yang berurut dari Taman Kanak-kanak dan berhenti pada terminal Universitas atau Perguruan Tinggi.

Saya terkagum membaca ulasan sebuah artikel Kesehatan. Beberapa menit setelah terlahir, bayi belajar mengenali bau tubuh ibunya. Sehingga wajar jika ia mengendus bau tubuh asing akan memberi reaksi paling alamiah: menangis.

Sebuah tulisan lain bersifat motivasi juga menyadarkan saya. Betapa besar tekad dan naluri saya belajar berjalan semasa bayi dahulu. Saya kerap dapati bayi dari kerabat dan sahabat tiada letih merangkak, berdiri, berjalan, terjatuh, merangkak. Berulang-ulang.

Sebagaimana dituturkan oleh Einstein. Belajar semestinya tak berbatas. Tidak harus dijejali pernik kaku tersebut sebelumnya. Ia merupakan suatu kondisi yang menggugah dan kadangkala memaksa kita untuk belajar. Memberi pemahaman dan pengenalan akan sesuatu yang baru. Boleh juga yang bersifat menggali lebih mendalam dan mengarah pada penemuan baru. Karenanya belajar memberi perubahan sebagai dampak baru bagi insan bersangkutan. Sebagaimana pernah disebut Trainer Pendidikan, Berton Turnip bahwa "belajar adalah berubah."

Bila telah memahami konteks belajar yang melibatkan pengalaman hidup. Maka, kita dapat menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Apakah belajar berjalan lebih sulit daripada belajar Statistika? Sila cantum jawaban di kolom komentar.

Lebih sulit mana: Belajar Berjalan atau Statistika?

Learn more ...



Frase ringkas 'learn more' acapkali disemat dalam laman online atau jendela aplikasi komputer. 'Mempelajari lebih lanjut' demikian kira-kira pengartian yang mendekati. Selang-seling kegiatan ternyata membuat saya lama menunda buah tulisan dalam blog ini.
Satu diantaranya Pelatihan "Training of Trainers: Pembelajaran Transformasional" yang berlangsung dari tanggal 5 April hingga 7 April 2013 lalu. Selama 3 hari, saya seolah menggali ke akar yang lebih mendalam tentang Pelatihan dan Pembelajaran. Saya bersyukur bisa menjadi bagian yang turut serta melaksankan ToT ini.
Salut bagi Kelompok Sinar Timur sebagai penggagas. Dan kemurahan hati bapak Berton Turnip yang rela datang jauh-jauh dari Bandung tanpa mengharap imbalan apa pun. "Bagi saya, berbagi itu ibadah," tutur pak Berton menyampaikan motivasinya. Saya sungguh terharu.
Tidak luput juga penghargaan bagi Armada Trainer TIK Sumut dan Djalaluddin Pane Foundation. Sumbangsih dana dan pendaftaran peserta dari kedua lembaga ini menjadi dukungan utama terlaksananya ToT ini. Saya bangga turut juga menjadi bagian keluarga besar, baik Sinar Timur, AT-TIK dan DPF.
Saya banyak memetik pengetahuan dan ilham dalam ToT: Pembelajaran Transformasional . Jadi, saya pun menerbitkan niat menyebarkannya kembali via blog pribadi ini. Termasuk juga buah-buah pengetahuan dan ilham yang pernah saya petik dalam ToT: Fasilitasi dan Komunikasi pada September 2012 lalu. Mbak Handa (dari Dazya Ina Mandiri) menjadi Fasilitator kami saat itu. Kembali saya berucap terima kasih bagi DPF dan AT-TIK yang memberi saya tempat untuk belajar sebagai salah satu peserta.

Puisi di Posterous
Beberapa sahabat blogger kemungkinan telah mengetahui kabar ini. Posterous akan menutup layanannya hari ini (30 April 2013). Saya agar gusar juga. Sebabnya, beberapa larik puisi pribadi telah saya tempatkan di sini.
'Pindah kos' untuk puisi amatir saya sempat terlintas dalam benak. Namun, upaya ini bakal menyita waktu jua. Akhirnya saya putuskan untuk memboyong puisi-puisi ini ke blog pribadi AnantaBangun.net. Dengan harapan sahabat pembaca mendapat selingan di antara tulisan yang kerap mengernyitkan dahi. Tentu tak elok bila saya dan sahabats terganggu fikirannya karena dirundung tulisan serius melulu. Huehehehe.
Toh, terciptanya sarana blog dilandaskan semangat saling berbagi. Terhentinya layanan Posterous dan beberapa penyedia layanan sejenis tidak akan menyurutkan semangat menulis kita, untuk belajar dan terus belajar lebih lanjut. Sebagaimana bapak Berton utarakan sebelumnya, berbagi liwat tulisan juga ibadah bagi saya. Amin.

Learn more ...

Bincang "unschooling" dengan Pak Berton Turnip



Berton Turnip (kiri) dan Sri Pujiastuti Purba (Ketua Sinar Timur)

Di sela-sela kritik terhadap Kurikulum 2013, saya menemukan ada juga bentuk perlawanan lain terhadap kebijakan pendidikan dari pemerintah. Mitra bincang saya, bapak Berton Turnip, ialah seorang Training Specialist di lembaga Wycliffe Global Alliance.  Tidak tanggung-tanggung, ketiga anak beliau mendapat didikan tanpa mengenyam bangku sekolah. Metode pendidikan yang ia gunakan disebut "unschooling".  Saya pun tertarik untuk larut dalam perbincangan berikut ini:

1. Istilah "unschooling" terdengar baru bagi saya.  Bagaimana perbedaan konsepnya dengan metode pendidikan "Schooling", pak?
“Schooling” merupakan metode pembelajaran yang efektif untuk mengajar sebanyak mungkin peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang sama, yang seragam.  Ini sangat cocok dengan era pertanian atau perindustrian yang lebih awal, di mana standarisasi merupakan hal yang menguntungkan.   

Penyeragaman memudahkan pertukaran komponen-komponen mesin industri.  Ini merupakan keuntungan di era “mass production” atau yang sering disebut era “ban berjalan”, di mana komponen-komponen diusahakan dibuat seragam.  Tetapi kita hidup di era industri maju dan di era informasi sekarang ini, di mana rancangan produk bisa berubah dengan cepat, di mana mesin-mesin diubah dengan cepat untuk mendapatkan efiensi yang lebih besar, di mana informasi mengalir dengan cepat.  

Di era yang juga disebut sebagai “creative era”, penyeragaman  menjadi penghambat.  “Schooling” menjadi penghambat.  “Schooling” yang secara inheren memang menyeragamkan, menjadikan anak tidak kreatif.  Karena itu diperlukan konsep baru  yang saya beri nama “Unschooling”. 

Bincang "unschooling" dengan Pak Berton Turnip

Mengenal TIK


dipinjam dari Ajku.edu.pk
Outline ini merupakan pembahasan awal dalam mata kuliah “Pemrograman Web.” Tindak untuk mengenal Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan langkah awal sebelum membuat program yang berjalan melalui aplikasi browser (peramban). Sebagai langkah awal ialah pentingnya pemahaman dan pemberdayaan layanan under web. Dalam kasus ini, dosen pengasuh fokus pada e-mail dan blog.


Saat ini kita hidup di sebuah kampung bernama Bumi. Bukan lagi wilayah yang tersekat batas provinsi, bahkan negara. Tsunami yang menyapu Jepang, pernikahan megah Pangeran Harry Williams dengan Putri Kate Middleton ataupun napaktilas perdana manusia di Bulan dapat diketahui siapa saja di planet biru ini. Secara kasat mata, terdapat ratusan satelit yang menyerap dan melepas informasi-informasi untuk dipilah dan disebar bagi masyarakat. Dengan satu prasyarat, mereka memahami dan memiliki Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Dampak perkembangan TIK ini sendiri sungguh menarik. Bila dulu manusia sulit mengambil keputusan karena minimnya informasi. Maka kini, banjir informasi justru kian mempersulit pengambilan keputusan. Fenomena yang sejalan penilaian Alvin Toffler sebagai “buta huruf abad 21”. Karenanya tantangan bagi kita pun turut berubah: bagaimana memberdayakan teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya pencapaian hasil maksimal?

Mengenal TIK

Kapan Terakhir Kali Kamu Mengagumi Langit Biru?


Gambar dipinjam dari Dipity.com

Saya mengutip pertanyaan ini dari sebuah buku. Berperihal 'bahagia'. Sesuatu yang kerap dicari, ditelusur bahkan (bila bisa) dibeli. Tergerak hati saya turut cari lebih mendalam lagi selepas surat dari seorang siswa. Dari sebuah tanya: Mengapa ia tidak bahagia?

Dan penggalian ini menyentuh sesuatu yang pribadi: Apakah saya juga berbahagia? Amat sukar menemu jawab kegundahan siswa saya bila di sisi lain saya juga dilema serupa. Sepertinya, kami bagai tuna netra mengembara di sekeliling hiruk pikuk definisi 'bahagia'.

Motivator Darmadi Darmawangsa memberi pencerahan liwat sebuah kisah. Dalam bukunya "Fight Like A Tiger Win Like A Champion": satu petualang memohon kebijakan pada seorang sepuh di jalan bercabang dua. "Jalan manakah sebaiknya saya tempuh? Sebelah kiri atau kanan?" Sang kakek bertanya balik: "Kemanakah tujuan kamu?" Sang petualang menggeleng. "Bila demikian, tidaklah menjadi masalah jalan mana yang hendak kamu tempuh, nak," ia memberi jawab bijak.

Intisari kisah tersebut menguapkan gundah akan tujuan akhir perjalanan hidup ini. Bukankah titik akhir tujuan hidup ini misteri? Atau coba kita seling dengan pertanyaan menggelitik ini: Bagaimana bila saya mampu mencapai tujuan akhir dari pencapaian hidup ini? Sebuah tanya yang cukup lazim, sebagaimana kolumnis majalah U Mag, Qaris Tajudin ketika menanggapi kiamat bertutur begini:
"Meski kiamat tak datang setahun lagi, mungkin kita perlu berandai-andai hidup kita segera berakhir. Dengan demikian, kita bisa mengetahui apa keinginan mendasar dalam diri kita."

Kapan Terakhir Kali Kamu Mengagumi Langit Biru?

Meniru Kegilaan Bernama Kreativitas


dipinjam dari Photobucket.com
Semasa kejayaan Orde Baru, kreativitas hanya laku untuk kesenian. Dengan beras murah meriah dan sandang terjangkau hingga masyarakat berpenghasilan rendah, maka kreativitas untuk pencaharian hidup menjadi bincang tabu. Atau, bahasa pahitnya, dipandang sinting. "Yah, semoga engkau berhasil kawan," Kira-kira demikian kalimat penyejuk terhadap gagasan kreativitas semisal Keripik Mak Icih atau konsep teknologi komputer layar sentuh (bila dilontarkan pada zaman itu). Sebuah pemikiran yang dinilai sakit, tatkala impian generasi cilik lebih didominasi cita-cita sebagai dokter, polisi atau direktur.
Hantaman krisis perekonomian justru membuka gerbang baru terhadap kreativitas pola fikir untuk pencaharian hidup. Meniru pakem konvensional yang berhasil semasa Orde Baru lalu, sama dengan meniru kepongahan Dinosaurus yang takluk oleh perubahan alam. Sehingga, membincangkan kreativitas menjadi teramat serius kini. Mempertaruhkan eksistensi dalam persaingan hidup.
Sesuatu yang dahulu dianggap 'gila' ini lah hendak ditata ulang oleh Ira Lathief liwat bukunya "Normal is Boring". Ia menjabarkan pemikiran kreatif memiliki batasan tipis dengan hal 'gila'. Kadangkala merupakan ramuan keduanya. Namun, si penulis lugas membedakan lema 'gila' dan 'sakit jiwa' (dalam bahasa Inggris, insanity). Ringkasnya, ia mengutip bulat sebuah pernyataan jenius abad ke-20, Albert Einstein -- yang juga sering dipandang nyeleneh dengan rambut jigraknya: "Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results".

Meniru Kegilaan Bernama Kreativitas

Velangkani



dijepret oleh: Ananta Bangun

Pagi, seperti biasa. Surya menguak cahya dari ufuk Timur. Namun, aku mengistimewakan pagi ini untuk suatu tujuan. Sebuah rumah ibadah. Tak jauh dari kediaman pribadi dan yang terpenting ini: hening.

Sebuah keheningan bisa jadi teramat penting. Jika hiruk lalu-lintas di jantung kota bisa kalah bising dengan gemuruh kerja otak, ini menandakan sesuatu tidak beres. Coba mengutip nasihat orang bijak "menyeimbangkan".  Hmmm. Sebenarnya, aku lebih ingin bungkam saja swara-swara tersebut. Atau lebih asyiknya dimisalkan cecuit-cecuit burung gereja taling-tarung berebut betina.

Derak terali sepeda motor turut bersumbang swara menuju 'syurga hening'. Aku sempatkan mengumpat debu kemarau yang berebut masuk ke lubang hidung. Sedikit nanar, di mulut gang rumah, kulihat sesosok manusia. Tiada bertangan. Tak pernah kutahu namanya. Namun, lebih mudah dikenali karena ia cacat tangan, dan berjualan tape. Ia mencari-cari sinar mataku. Aku melihat bola matanya. Kami tak ubahnya dokter mata dan pasien. Tetapi tidak jelas, siapa dokter dan pasien.

"Mas, hendak pigi kemana?," ia membuka cakap sembari senyum. "Velangkani," jawabku sekenanya. Aku kurang suka senyum pria ini. Setiap kali bersua dengan sepeda penjaja tape yang dikemudi dengan dadanya, ia selalu tersenyum. Acap kali seperti ejekan. Aku yang bertubuh lengkap, malas tersenyum. Berkebalikan dengannnya. "Apakah aku harus tak bertangan untuk tersenyum," rutuk dalam hatiku.

Velangkani

"StrOKe" untuk Belajar nan Menyenangkan

bersama bapak Sofyan Lubis, guru di PPM Ar-Rasyid
"Dulu saya TBC, sekarang saya jadi Flu." Petikan kalimat ini, beberapa kali saya lontar dalam sesi pelatihan atau belajar di kelas. Reaksi umum dari peserta pelatihan atau siswa ialah mengernyitkan dahi. Mungkin, mereka menduga saya benar-benar sakit hingga galau di saat jarum jam menunjukkan saatnya makan siang. "Iya. Saya sebelumnya Tidak Bisa Computer. Nah, sekarang (setelah tahu komputer) malah Facebookan meLulu." Senandung tawa pun berderai.

Saya suka nakal meminjam atau mengutak-atik kata-kata baku menjadi akronim berisi kepanjangan yang menggelitik. Misalkan saja, penggunaan frasa akronim 'Asam Urat' yang dapat dipanjangkan menjadi Asal Sampai kantor/ sekolah Uring-uringan atau Titip absen. Bagi saya, ini merupakan satu strategi untuk menjadikan kegiatan belajar nan menyenangkan. Nah, agar tetap berciri khas akronim menggelitik kita sebut saja -- maaf, ini tidak bermaksud menyindir -- StrOKe atawa Strategi Olah Kelompok bElajar. :)

Kiat StrOKe lebih ajeg disebutkan seiring menyusutnya tingkat konsentrasi dalam pelatihan/ belajar di kelas. Boleh juga kita terapkan guna mencairkan suasana kaku (ice breaking) karena perasaan risih saat memulai perkenalan dalam suasana belajar-mengajar. Kiat ini menjadi pilihan tatkala upaya ice breaking di luar ruangan terkendala. Katakanlah, cuaca sedang hujan. Atau, bila saja, beberapa peserta terhalang secara fisik seperti: mengandung atau sedang cedera organ tubuh.

Dalam satu pelatihan Training of Trainers (ToT): Fasilitasi dan Komunikasi, trainer Sri Handayani memaparkan, tingkat konsentrasi manusia dalam proses belajar pasif (tidak bergerak) cenderung menurun. Ia membuat ilustrasi dalam grafik kurva dengan sumbu X dan Y. Ice Breaking pun menjadi alat untuk 'memompa' kembali semangat para peserta pelatihan/ siswa. Tetapi, grafik konsentrasi tidak akan dapat menyamai pada saat sesi awal pembelajaran.

"StrOKe" untuk Belajar nan Menyenangkan

Dale Carnegie tak Mengulas Twitter


dipinjam dari:
cronkitehhh.personal.asu.edu
Bagaimana bila almarhum motivator ulung, Dale Carnegie, berkesempatan menikmati layanan Twitter? Tentu, ia akan berdecak kagum mendapati nilai pemikirannya dalam "How To Win Friends and Influence People" menjangkau banyak insan. Namun, ia tidak akan mengupas panduan bijak mendayagunakan Twitter dalam memenangkan pertemanan atau menanamkan pengaruh. Demikian eks evangelis Apple, Guy Kawasaki, mencetus dalam bukunya "Enchanment". Buah karya setelah menuai pengalaman berpuluh tahun dalam perusahaan milik Steve Jobs itu.

"Enchanment" (dalam bahasa Indonesia berarti "memikat") menjabar nasihat dan panduan Kawasaki tentang menanamkan pengaruh bagi khalayak, utamanya penunjang karir. Sebuah isu yang kian menghangat usai kemenangan Obama untuk kedua kalinya di kursi Kepresidenan Amerika Serikat. Di Indonesia, terpilihnya Gubernur Jakarta, Joko Widodo bisa menjadi panutan. Para pengamat meyakini, kemenangan kedua sosok tersebut berkat kepiawaian menanamkan pengaruh secara massal.

Namun, seperti halnya Carnegie, Kawasaki tak menitikberatkan pada layanan teknologi komunikasi & informasi yang mudah jenuh. Ia lugas memaparkan kiat dan terobosan yang dapat memikat sesama insan nan unik (walaupun, hampir sebagian besar berkutat dalam ranah perusahaan Apple). Coba saja lirik bagaimana alumnus Standfor University dan UCLA ini mengutip rumus a la matematika untuk berjabat tangan yang sempurna. Atau cakar gagak di sisi antara mata dan telinga kita.

Dale Carnegie tak Mengulas Twitter

Waktu: Sudah/ Belum/ dan Akan Dilakukan

dipinjam dari e-book "Crowd" Yuswohaddy
Kala itu, malam jelang 29 Februari 1504. Christopher Columbus, sang penjelajah legendaris, bersama awaknya terengah-engah. Penyusuran benua yang baru ditemuinya (Amerika) tersandung menyusutnya persediaan makanan. Ia gegas mencari jawaban untuk memohon makanan dari penduduk setempat yakni suku Indian. Namun, gayung tak bersambut, Kepala Suku menolak permohonan sang "Pembangkang Mitos Bumi berbentuk Datar" ini.

Seolah memperkirakan skenario tersebut. Columbus menyampaikan ancaman bersifat religius. Bahwasanya, Tuhan murka dengan sikap dan penolakan suku Indian setempat. Amarah tersebut ditunjukkan dengan membuat Bulan raib dari langit. Di malam hari (29 Feb 1504) tersebut rembulan menjadi kasat mata, para suku Indian lalu memohon ampun pada Columbus dan Tuhan-nya. Kurun 1 jam kemudian, satelit tunggal Bumi ini tampak kembali usai mengalami peristiwa Gerhana Bulan.

Terlepas kebenaran kisah ini. Columbus memaparkan dirinya selamat berkat almanak waktu temuan Regiomontanus. Astronom berkebangsaan Jerman tersebut mengungkap informasi rinci mengenai matahari, bulan dan planet-planet dalam rentang tahun 1475-1506. Termasuk di dalamnya prakiraan Gerhana Bulan.

Rajut cerita tersebut berujung pada satu ihwal: waktu. Bagaimana ia sepanjang napaktilas hidup menjadi kawan atau (sebaliknya) lawan. Sesekali pernah juga 'waktu' disalahkan atas peristiwa dan hasil tak sesuai harapan. Juga menangisi detak waktu yang lama berlalu disaput jemari zaman. Dan juga waktu yang diam namun teguh melangkahi ramalan-ramalan sang akhir. Kiamat.

Waktu: Sudah/ Belum/ dan Akan Dilakukan

Bincang Social Media di #RumBerdikari


gambar poster diskusi SocMed oleh #RumBerdikari
"Saat ini, belum ada jurusan (kuliah) Social Media." Demikian sebuah cetusan oleh Adi S. Nugroho. Salah satu pembicara yang memandu diskusi #RumBerdikari dengan topik 'Meraih Manfaat Lewat Social Media'. Ia duduk di gundukan panggung kecil bersama Meutya Hafid (founder Mutumanikam Nusantara Center) serta Wicaksono (mantan jurnalis Tempo yang kini menjadi Pemred Plasa MSN). Perpaduan pembicara yang tepat. Pun, moderator, Wahyu Hidayat, sahabat saya ini berhasil memberdayakan Social Media sebagai mata pencaharian.

Lalu, dimana pertautan yang dinyatakan pemilik akun Twitter @Sheque dengan diskusi teranyar, pada Sabtu (22 Des 2012) kemarin?

Adi, yang akrab disapa Seseq, menjelaskan adanya tren lowongan kerja untuk posisi Social Media Manager lah yang jadi penculik perhatian. Sedikit dari banyak terobosan yang dikandung Teknologi Informasi dan Komunikasi ini. Ia meyakini, ini bukan fenomena yang bersifat sementara. Dikarenakan perannya sebagai wadah berkumpul para insan dan terselip juga budaya saling menebar pengaruh. Oleh Seseq ini disebut 'personal recommendation'.

Wicaksono turut juga menimpali dengan kiat memanfaatkan Social Media untuk pengembangan diri/ jembatan karir. Menurut blogger berjuluk @Ndorokakung ini, kemauan untuk membuat sesuatu, diiringi tindakan yang tekun, dus adanya faktor keberuntungan dapat menjadi pewujud harapan tersebut. Sebagai pemisalan, ia menyebut seorang temannya, seorang mantan seniman, hendak mendaftar Twitter sebagai wadah menyebar puisi karyanya. "Jam berapa Twitter dibuka? Berapa harganya?," Ndorokakung menirukan pertanyaan sang mantan seniman, disusul gelak tawa.

Bincang Social Media di #RumBerdikari

Bersimpuh di kaki Mamak (Ibu)



Saya mendengar petuah bijak "Surga di telapak kaki Ibu" kali pertama dari seorang guru Sekolah Dasar (SD). Berlanjut ke pariwara menyentuh di majalah dan televisi yang kala itu diawali Televisi Pendidikan Indonesia (kini menjadi MNC Tv). Peribahasa indah ini mengiang terus hingga akhir tahun saya meninggalkan seragam sekolah merah-putih. Ia lalu mendorong nurani untuk coba melakukan secara diam-diam. Kerap tertunda sebab rasa risih yang juga gemuruh.

Sesekali jemari kenangan menggores kembali cuplikan masa lalu tatkala mamak (panggilan saya untuk Ibu) menyeduhkan susu hangat sebelum berangkat ke sekolah. Menyampirkan tas dan mengusap hangat dahi mengandung doa semoga anaknya belajar dengan tekun. Bila rasa jemu menuju sekolah begitu hebatnya, tak jarang pula saya memeluk kaki mamak agar diperkenankan tinggal sementara (--- bahasa halus dari bolos) di rumah. Berarti, saya pernah jua sedikit bersimpuh di kaki Mamak.

Jika saya coba membuat khayalan tersendiri, kali pertama saya bersimpuh ialah tatkala dilahirkan di bumi ini. Tentu, dengan isak tangis yang mengisi senyap malam minggu dikarenakan kelahiran saya pada 3 September 1982 ialah hari Sabtu. Dan Bapak saya yang tidak perlu celingak-celinguk mencari di ruang bayi karena miripnya wajah kami. "Wah, lae. Kayaknya anak kau gak usah diberi nomor kode juga sudah tanda kita," canda seorang pria yang juga menemani istrinya melahirkan. Huehehehehe.

Di kaki Mamak, saya pernah bersimpuh, terpekur, mengerjap dengan ragam latar kisah. Sebutlah itu karena terluka benda tajam, meredam degup cinta pertama, prestasi pendidikan mandeg, dan sejumlah kisah lain.

Bersimpuh di kaki Mamak (Ibu)

Berpuluh Tahun Belajar TIK, Untuk Apa?


bersama Ustadz Muis, Kepsek PPM Ar-Rasyid
Fikiran saya tak jua lepas dari tanya di atas. Sejumput perenungan sebelum detak waktu tak lagi mengacuhkan tahun yang sarat dengan ramalan konyol: kiamat muncul di tahun 2012. Ringkasnya, pencerminan kembali napaktilas hidup dengan minat yang saya geluti semenjak berseragam putih-biru. Yakni Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Sering saya mengulas senyum sendiri tatkala jari kenangan mengulik momen kali pertama membuat PC komputer 'hang' dengan kombinasi menekan tombol keyboard tak beraturan. Saya bahkan lupa bilah apa saja yang telah ditekan. Esoknya, ia dikebumikan sang pemilik rental ke timbangan besi bapak pemulung. Saya masih hafal betul nama rental tersebut "Citra Computer" (di Simpang Sumber, USU - Medan) dengan tarif Rp1.000,- per jamnya.

Perjalanan saya mempelajari TIK kian mengalir dari jajaan murah majalah bekas di Pajak USU. Kemudian, mencuri hafal buku-buku TIK yang dipajang di toko buku Gramedia. Hingga ke meja-meja rembug bersama sahabat blogger di kota Medan ini. Sebuah pengalaman yang menuang ilham ke dalam kendi pengetahuan. Dan kerap juga menggelikan, mengingat latar belakang pendidikan sastra yang jarang nian menyentuh pendayagunaan TIK. 

Berpuluh Tahun Belajar TIK, Untuk Apa?

Sehari Tanpa Guru

"Pulang Malu Kalau Nggak Bawa Ilmu" -- oleh Ustadz Fikri
Mark Twain, penulis legendaris dari Amerika Serikat itu, pernah menggerutui sekolahnya. Ia mencetus: "I will not let my schooling interfere with my education". Bila dialihbahasakan kira-kira begini artinya "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikanku."

Hampir setahun mengakrabi pekerjaan sebagai guru, saya kembali tercenung dengan pernyataan Twain. Novelis 'Tom Sawyer and Huckleberry Fin' ini seolah mewakili keraguan akan peran guru di sekolah resmi. Toh, banyak insan berhasil gapai prestasi tanpa mengenyam pendidikan formal atau gelar nan istimewa.

Terantuk fikir saya pada sudut niat meniadakan sejenak eksistensi guru. Dan sengaja tenggelam di pusaran pendapat bahwa saya bisa tahu dan mencari sendiri. Gagah-gagahan bersikap mandiri, nyaris menyentuh faham atheis. Oalah.

Karena kekhawatiran atheisme tersebut, saya batasi jangka waktu tak berlama-lama nian. Cukup sehari saja. 1 x 24 jam mungkin tantangan kadar ringan. Namun, setidaknya bisa menguji praduga-praduga saya tanpa laboratorium semewah ilmuwan Prancis, almarhum Louis Pasteur.

Sehari Tanpa Guru