Apakah ada yang lebih inspiratif?
Nama beliau Siti Hasnah. Berusia sekira 50 tahun. Dalam Pelatihan TIK ke-X (Program Teachers Competency Development Program), beliau mengakui baru menggunakan komputer tatkala turut dalam pelatihan yang digagas dan didanai Djalaluddin Pane Foundation (DPF).
Dalam 2 hari, ia membangun keyakinan diri dan mengulang-ulang cara membuat materi presentasi ajar dengan MS Powerpoint. Sebuah inspirasi yang sulit ditemui kini.
Adakah yang lebih inspiratif dari ini? Adakah motivasi insan lain mampu membakar semangat kita? Sila kirim kirim ke surel saya: anantabangun@gmail.com
Semoga anda turut terinspirasi.
Fasilitator Bijak Selalu Manfaatkan 'Morfin'
Fasilitator Bijak Selalu Manfaatkan 'Morfin'
Jangan mengajar di ranjang Prokrustes
Alkisah pada suatu masa di negeri Yunani, nama 'Prokrustes' menimbulkan kegegeran. Siapa Prokrustes? Memiliki nama asli Damastes, ia dijuluki Prokrustes yang berarti "meregangkan", Ia terkenal karena muslihatnya mengundang para musafir yang bertualang ke daerah Attica.
Usai menjamu dengan suguhan nikmat. Ia mengajak tamunya untuk tidur di ranjang besi miliknya. Bila ukuran ranjang terlalu panjang, maka Prokrustes akan meregangkan tangan dan kaki tamunya hingga benar-benar pas. Acapkali hingga anggota tubuh tersebut lepas. Bila kaki tamunya terlalu panjang dari ukuran ranjang, ia akan memotongnya sesuai panjang ranjang tersebut.
Fanatisme Prokrustes untuk mendapatkan segala sesuatu ideal menurut egonya menjadi inspirasi Nassim Nicholas Taleb. Ia mencibir ego serupa yang mewabah pada masyarakat kita kini. Dalam aforisme di bukunya "Ranjang Prokrustes" Taleb mendapati banyak manusia yang sejatinya hendak mewujudkan sesuatu yang ideal terjebak dalam fanatisme Prokrustes.
Saya tergelitik mengaitkannya pada sosok pengajar di bulan yang masih beraroma Hari Pendidikan Nasional. Bukankah para pengajar memiliki peran berbagi pengetahuan? Tentu ada semangat menentukan capaian ideal bagi para pembelajar. Sayangnya, kerap muncul rasa frustasi jika pembelajar tidak merasa bertanggung jawab mencapai target ideal tersebut. Pada akhirnya muncul godaan untuk menghakimi mereka "tidak mau belajar" atau "tak berhasrat menambah pengetahuan". Satu tindak yang mirip Prokrustes.
Khusus untuk kasus Pembelajaran bagi Orang Dewasa ada satu kiat. Dalam pelatihan "Fasilitasi dan Komunikasi" oleh mbak Handa (Dazya Ina Mandiri) terdapat satu sesi yang disebut Menuliskan Lembar Komitmen.
Sebelum menuliskan lembar komitmen tersebut, libatkan peserta tentang "Apa yang Mereka Harapkan dari Pelatihan" ini. Peserta lalu diarahkan menuliskannya pada beberapa lembar kertas Metaplan. Agar mudah dicerna, umumnya hanya ditulis gagasan utama saja. Semisal: Mahir membuat slide presentasi berisi gambar/ video. Satu peserta boleh mencantum lebih dari satu harapan. Dimana, satu harapan tersebut ditulis dalam satu kertas metaplan.
Saatnya memasuki sesi Lembar Komitmen. Para peserta dilibatkan kembali bagaimana komitmen mereka untuk mewujudkan pengharapan yang telah dicantum sebelumnya.
Bila kemudian terjadi pengabaian, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab moral si pembelajar. Pengajar dalam Pelatihan tersebut bertanggungjawab agar materi yang diberikan mudah dicerna oleh si pembelajar. Komitmen menjadi rambu para pembelajar untuk menyadari pentingnya materi pelatihan yang tengah diikutinya.
Dan sang pengajar pun dapat menghindari fanatisme Prokrustes. Memaksakan capaian ideal yang mematikan motivasi belajar. Mengajar hendaknya memiliki pilar tangguh dari kesungguhan kedua pihak: pengajar dan pembelajar. Karenanya, jangan mengajar di ranjang Prokrustes.
Jangan mengajar di ranjang Prokrustes
Lebih sulit mana: Belajar Berjalan atau Statistika?
Jenius Fisika, Albert Einstein menuturkan kiatnya dalam mengajar: "Saya tidak pernah mengajar. Saya hanya menciptakan kondisi bagi mereka (mahasiswa) untuk belajar."
Belajar jadi beban bila konsep pemikiran masih berkutat pada guru, buku, ruang kelas, papan tulis, dan pernik-pernik belajar a la sekolahan.
Konsep belajar memberi batasan. Di luar ruang kelas, tindak belajar pun menguap. Berganti dengan cengkerama, bermain, atau seling kegiatan yang menyenangkan. Beberapa insan beranggapan telah selesai belajara setelah menggondol gelar kesarjanaan. Dengan demikian belajar pun bersifat kronologis. Yang berurut dari Taman Kanak-kanak dan berhenti pada terminal Universitas atau Perguruan Tinggi.
Saya terkagum membaca ulasan sebuah artikel Kesehatan. Beberapa menit setelah terlahir, bayi belajar mengenali bau tubuh ibunya. Sehingga wajar jika ia mengendus bau tubuh asing akan memberi reaksi paling alamiah: menangis.
Sebuah tulisan lain bersifat motivasi juga menyadarkan saya. Betapa besar tekad dan naluri saya belajar berjalan semasa bayi dahulu. Saya kerap dapati bayi dari kerabat dan sahabat tiada letih merangkak, berdiri, berjalan, terjatuh, merangkak. Berulang-ulang.
Sebagaimana dituturkan oleh Einstein. Belajar semestinya tak berbatas. Tidak harus dijejali pernik kaku tersebut sebelumnya. Ia merupakan suatu kondisi yang menggugah dan kadangkala memaksa kita untuk belajar. Memberi pemahaman dan pengenalan akan sesuatu yang baru. Boleh juga yang bersifat menggali lebih mendalam dan mengarah pada penemuan baru. Karenanya belajar memberi perubahan sebagai dampak baru bagi insan bersangkutan. Sebagaimana pernah disebut Trainer Pendidikan, Berton Turnip bahwa "belajar adalah berubah."
Bila telah memahami konteks belajar yang melibatkan pengalaman hidup. Maka, kita dapat menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Apakah belajar berjalan lebih sulit daripada belajar Statistika? Sila cantum jawaban di kolom komentar.
Lebih sulit mana: Belajar Berjalan atau Statistika?
Learn more ...
Learn more ...
Bincang "unschooling" dengan Pak Berton Turnip
![]() |
| Berton Turnip (kiri) dan Sri Pujiastuti Purba (Ketua Sinar Timur) |
Penyeragaman memudahkan pertukaran komponen-komponen mesin industri. Ini merupakan keuntungan di era “mass production” atau yang sering disebut era “ban berjalan”, di mana komponen-komponen diusahakan dibuat seragam. Tetapi kita hidup di era industri maju dan di era informasi sekarang ini, di mana rancangan produk bisa berubah dengan cepat, di mana mesin-mesin diubah dengan cepat untuk mendapatkan efiensi yang lebih besar, di mana informasi mengalir dengan cepat.
Di era yang juga disebut sebagai “creative era”, penyeragaman menjadi penghambat. “Schooling” menjadi penghambat. “Schooling” yang secara inheren memang menyeragamkan, menjadikan anak tidak kreatif. Karena itu diperlukan konsep baru yang saya beri nama “Unschooling”.
Bincang "unschooling" dengan Pak Berton Turnip
Mengenal TIK
| dipinjam dari Ajku.edu.pk |
Mengenal TIK
Kapan Terakhir Kali Kamu Mengagumi Langit Biru?
| Gambar dipinjam dari Dipity.com |
Kapan Terakhir Kali Kamu Mengagumi Langit Biru?
Meniru Kegilaan Bernama Kreativitas
![]() |
| dipinjam dari Photobucket.com |
Meniru Kegilaan Bernama Kreativitas
Velangkani
![]() |
| dijepret oleh: Ananta Bangun |
Velangkani
"StrOKe" untuk Belajar nan Menyenangkan
| bersama bapak Sofyan Lubis, guru di PPM Ar-Rasyid |
"StrOKe" untuk Belajar nan Menyenangkan
Dale Carnegie tak Mengulas Twitter
| dipinjam dari:
cronkitehhh.personal.asu.edu
|
Dale Carnegie tak Mengulas Twitter
Waktu: Sudah/ Belum/ dan Akan Dilakukan
![]() |
| dipinjam dari e-book "Crowd" Yuswohaddy |
Waktu: Sudah/ Belum/ dan Akan Dilakukan
Bincang Social Media di #RumBerdikari
![]() |
| gambar poster diskusi SocMed oleh #RumBerdikari |
Bincang Social Media di #RumBerdikari
Bersimpuh di kaki Mamak (Ibu)
Bersimpuh di kaki Mamak (Ibu)
Berpuluh Tahun Belajar TIK, Untuk Apa?
![]() |
| bersama Ustadz Muis, Kepsek PPM Ar-Rasyid |
Sering saya mengulas senyum sendiri tatkala jari kenangan mengulik momen kali pertama membuat PC komputer 'hang' dengan kombinasi menekan tombol keyboard tak beraturan. Saya bahkan lupa bilah apa saja yang telah ditekan. Esoknya, ia dikebumikan sang pemilik rental ke timbangan besi bapak pemulung. Saya masih hafal betul nama rental tersebut "Citra Computer" (di Simpang Sumber, USU - Medan) dengan tarif Rp1.000,- per jamnya.
Perjalanan saya mempelajari TIK kian mengalir dari jajaan murah majalah bekas di Pajak USU. Kemudian, mencuri hafal buku-buku TIK yang dipajang di toko buku Gramedia. Hingga ke meja-meja rembug bersama sahabat blogger di kota Medan ini. Sebuah pengalaman yang menuang ilham ke dalam kendi pengetahuan. Dan kerap juga menggelikan, mengingat latar belakang pendidikan sastra yang jarang nian menyentuh pendayagunaan TIK.
Berpuluh Tahun Belajar TIK, Untuk Apa?
Sehari Tanpa Guru
| "Pulang Malu Kalau Nggak Bawa Ilmu" -- oleh Ustadz Fikri |





